Daán yahya/Republika

Sang Reformis Arab Saudi

Raja Faisal bin Abdul Aziz menjadi tokoh kunci dunia Arab dalam menekan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, yang pro-Israel.

Oleh: Hasanul Rizqa

Arab Saudi merupakan sebuah negara kerajaan terbesar di Semenanjung Arabia. Secara geografis, negeri itu berbatasan dengan Laut Merah di barat; Yordania di barat laut; Irak dan Kuwait di utara; Oman di tenggara; Yaman di selatan; dan Teluk Persia, Qatar, dan Uni Emirat Arab di timur. Sekitar 75 persen penduduk kerajaan tersebut menetap di perkotaan. Hanya sebagian kecil masyarakat, yakni umumnya suku-suku Arab badui, yang hingga kini masih menjadi penggembala atau petani di daerah padang pasir. Selain Riyadh sebagai ibu kota, kota-kota pentingnya adalah Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Jeddah, dan Zahran.

 

Seperti dijelaskan dalam Ensiklopedia Islam, sejarah panjang yang dilalui Arab Saudi dimulai ketika suku-suku bangsa keturunan Nabi Ibrahim AS tinggal di Semenanjung Arabia sejak ribuan tahun silam. Peran bangsa Arab Ismailiyah (keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim) semakin penting dalam percaturan dunia sesudah Nabi Muhammad SAW mengembangkan Islam. Ketika Rasulullah SAW wafat, syiar agama tauhid telah menyebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab.

 

Dalam tiga fase pertama masa Khulafaur rasyidin, Semenanjung Arab masih menjadi pusat pemerintahan. Kondisi berubah ketika Ali bin Abi Thalib menjabat khalifah. Demi menghindari Madinah dari kecamuk konflik politik, menantu Rasulullah SAW itu memindahkan ibu kota daulah Islam ke Kufah (Irak).

 

Menyusul dengan berakhirnya masa Khulafaur rasyidin dan dimulainya era Dinasti Umayyah, pusat pemerintahan kian “menjauh” dari Jazirah Arab. Demikian pula keadaannya ketika Kekhalifahan Abbasiyah, yang beribu kota di Baghdad (Irak), tegak selama lebih dari lima abad.

 

Ketika Kekhalifahan Turki Utsmaniyah berkuasa sejak abad ke-14 M, Jazirah Arab bisa dikatakan semata-mata menjadi pusat keagamaan, alih-alih politik-pemerintahan dunia Islam. Pada awal abad ke-16 M, Turki menguasai Semenanjung Arabia, terutama bagian utara dan barat laut. Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M, bangsa-bangsa Barat—utamanya Britania Raya—mulai menanamkan pengaruhnya. Menjelang Perang Dunia I, tidak ada kekuasaan politik yang benar-benar kokoh di Semenanjung.

 

Sebab, para penguasa (amir) setempat saling berebut kekuasaan dan wilayah satu sama lain. Dari sekian banyak keamiran di Jazirah Arab, yang paling menonjol dan akhirnya bertahan lama ialah Bani Saud. Dinasti ini berpusat di Dariyah, daerah dekat Kota Riyadh kini.

 

Sejak abad ke-17 M, dinasti yang didirikan oleh Saud bin Muhammad al-Muqrin (wafat 1726) ini mulai meluaskan wilayahnya sedikit demi sedikit. Ekspansi yang dilakukannya terutama ke arah timur sehingga kekuasaannya mencakup negeri-negeri Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan sebagian Oman kini. Anak keturunan Saud menarget perluasan wilayah hingga Hijaz, tempat dua kota suci berada.

DOK wikipedia

Pada 1744, Muhammad bin Saud menggalang persekutuan dengan Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1792), seorang tokoh agama yang hendak memurnikan keimanan umat Islam. Wahabisme, demikian nama gerakannya populer disebut, berupaya membasmi penyelewengan atau bidah dalam praktik-praktik beragama, semisal berdoa di kuburan dengan mengharap “berkah” dan pemujaan “orang-orang suci.” Bani Saud tertarik dengan gagasan Wahabisme yang dalam pandangannya mengusung pembaruan. Di samping itu, paham ini dapat menguntungkannya dalam konteks politik regional di Jazirah Arab.

 

Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, khususnya antara tahun 1773–1818, gabungan kekuatan Bani Saud dan Wahabisme dapat mempersatukan masyarakat Islam di Jazirah Arab untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal Kekhalifahan. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’aah di berbagai negeri Muslim.

 

Keberhasilan Dinasti Saud untuk memperluas wilayahnya di Semanjung Arab menyebabkan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah menerjunkan pasukan guna merebut daerah itu kembali. Serangan awal Turki sempat berhasil. Satu per satu daerah-daerah yang dikuasai Bani Saud dapat direbut kembali. Bahkan, pada 1818 Turki sukses merebut Dariyah walaupun tidak sampai lama.

 

Hingga akhir abad ke-19 M, Dinasti Saud dilanda serangan dari luar, terutama Turki Utsmaniyah, dan juga dari dalam. Perpecahan internal dipicu intrik-intrik politik para bangsawan, terutama yang berambisi merebut kekuasaan tunggal. Pada 1891, tokoh-tokoh kunci Bani Saud bahkan terpaksa hijrah ke Kuwait untuk mempertahankan diri.

 

Barulah pada fajar abad ke-20 M, situasi mulai menguntungkan Dinasti Saud. Kontrol Istanbul kian melemah atas Jazirah Arab karena semakin merebaknya hegemoni Barat. Kekhalifahan Turki Utsmaniyah tampak semakin tak berdaya menghadapi imperialisme dan kolonialisme, yang menggerogoti dunia Islam—terutama kawasan-kawasan yang jauh dari Turki.

 

Pada 1910, Turki terpaksa menyerahkan satu kota penting di Hijaz, Jeddah, kepada Britania Raya. Hal itu memicu riak-riak “ketidakpatuhan” orang-orang Arab pada Istanbul kian membesar. Sementara, di Najd yakni pusat pengaruh Dinasti Saud, muncul pemimpin muda yang berbakat: Abdul Aziz bin Saud. Ia sukses menyusun kekuatan bersenjata yang berasal dari suku-suku Arab Badui di Najd. Mereka menamakan diri Ikhwan (saudara). Dan, waktu singkat Abdul Aziz dan pasukannya dapat menguasai Riyadh, Hasa (1913), dan Asir (1923). Tinggal “selangkah” lagi ambisinya merebut Hijaz dapat mewujud.

Raja Faisal berhasil mewujudkan embargo minyak agar dilakukan negara-negara Arab anggota OPEC terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat pro-Israel.

Lahirnya Kerajaan

 

Pada 23 September 1932, Abdul Aziz bin Saud memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Ia sendiri menjadi raja pertamanya. Kepemimpinan lelaki kelahiran Riyadh itu disambut negara-negara Barat—termasuk Inggris, Prancis, dan Belanda—yang langsung mengumumkan pengakuan resmi.

 

Sebelumnya, antara Juli 1915 dan Maret 1916, Britania Raya melalui Letnan Kolonel Sir Henry McMahon telah berkorespondensi dengan penguasa (syarif) Makkah, Husain bin Ali. Disepakatilah bahwa Inggris akan mengakui kemerdekaan Arab setelah Perang Dunia I usai sebagai kompensasi dari gerakan revolusi yang melawan Utsmaniyah.

 

Pada 10 Juni 1916 di Makkah, Husain bin Ali memproklamasikan kemerdekaan Arab. Lelaki keturunan Bani Hasyim ini mengeklaim diri sebagai pemimpin orang-orang Arab yang menghuni kawasan antara Halab (Aleppo) di Syam hingga Aden di Yaman. Tujuannya agar seluruh wilayah tersebut bebas dari kontrol Turki Utsmaniyah. Secara finansial dan persenjataan, ia dan pendukungnya ditaja Inggris melalui pangkalan militer yang berkedudukan di Mesir.

 

Dalam konteks itulah, nyata bahwa Inggris bermain “dua kaki” dalam melemahkan pengaruh Turki Utsmaniyah di Jazirah Arab. Britania Raya bukan hanya mendukung Syarif Makkah, tetapi juga Dinasti Saud. Pada akhirnya, kedua kekuatan Arab (yang anti-Turki Utsmaniyah) itu saling berhadap-hadapan.

 

Pada 1924, pecahlah perang antara pasukan Abdul Aziz bin Saud di satu sisi dan pasukan Husain bin Ali di sisi lain. Perlu waktu dua tahun untuk Abdul Aziz keluar sebagai pemenang sesungguhnya. Hijaz pun jatuh ke tangan Dinasti Saud. Momen itu ditandai dengan keberhasilannya merebut Jeddah pada 8 Januari 1926.

 

Sesudah itu, Husain bin Ali diizinkan keluar dari Jeddah untuk menuju Aqaba. Namun, Inggris lalu mengintervensi sehingga (mantan) syarif Makkah itu diasingkan ke Siprus dan wafat di sana.

DOK wikipedia

Raja Faisal

 

Dinasti Saud memerintah Kerajaan Arab Saudi hingga kini. Salah seorang tokoh wangsa tersebut yang terus dikenang dalam sejarah adalah Faisal bin Abdul Aziz. Ia mulai memasuki dunia pemerintahan sejak 1926 M, usai ayahandanya mengeluarkan maklumat yang menunjuk dirinya sebagai wakil Kerajaan di Hijaz dan sekaligus pemimpin Majelis Permusyawaratan di sana. Ketika itu, sosok ini masih berusia 20 tahun.

 

Raja Abdul Aziz wafat pada 1953. Semula, Sa’ud selaku putra sulung almarhum diangkat sebagai penerus takhta, sesuai amanat Abdul Aziz. Adapun Faisal diberi jabatan perdana menteri. Namun, persaingan kemudian muncul di antara mereka.

 

Tampaknya, Raja Sa‘ud kurang suka dengan adanya posisi perdana menteri, yang membuat seolah-olah kekuasaannya kurang absolut. Apalagi, Faisal pun memegang jabatan ketua kabinet. Dalam berbagai kesempatan, sang perdana menteri kerap menyuarakan gagasan pembaruan.

 

Akhirnya, Faisal mengundurkan diri dari posisi perdana menteri pada 1960. Raja Sa’ud lalu mengambil alih kendali atas kabinet. Namun, ketidakstabilan politik masih saja terjadi.

 

Pada 23 Maret 1964, ulama-ulama Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menyerukan Raja Sa’ud agar menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada Faisal. Adapun Sa’ud berlaku sebagai raja, yakni simbol persatuan negeri. Fatwa itu menuai dukungan para menteri. Akhirnya, sang raja menerima fatwa tersebut.

 

Pergolakan politik toh tak berhenti. Akhir Oktober 1964, sejumlah pembesar Dinasti Saud beserta para ulama mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Mereka menyerukan berhentinya Sa’ud dari posisi raja. Selanjutny, Faisal didorong naik sebagai penerus takhta. Mulai tanggal 2 November 1964, perubahan itu mewujud sudah. Faisal menjadi raja Arab Saudi.

DOK wikipedia

Modernisasi Arab hingga anti-Israel

 

Raja Faisal menjalankan kebijakan-kebijakan yang membuka ruang bagi modernisasi di Arab Saudi. Ia, antara lain, memaklumkan penghapusan perbudakan dan penyusunan Undang-Undang Perburuhan. Sang raja juga mendorong pembaruan dalam bidang pelayanan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dalam masa pemerintahannya pula, Kerajaan terbagi ke dalam wilayah-wilayah provinsi, dengan majelis permusyawaratan pada masing-masing.

 

Raja Faisal membuka keran kebebasan berpendapat, yang lebih progresif daripada era pendahulunya. Dalam bidang ekonomi, ia mencanangkan pembangunan industri dan pertanian. Visinya sudah menjangkau jauh agar Arab Saudi tidak melulu bergantung pada pemasukan dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi.

 

Seturut dengan kondisi zaman ini, Raja Faisal menyambut gelombang dekolonisasi negara-negara di Asia dan Afrika. Ia menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara mayoritas Muslim, termasuk yang dahulu dijajah Eropa. Dalam konteks regional Timur Tengah, ia terdepan dalam mengimbau kerja sama negara-negara Arab, termasuk dalam memerangi Zionis-Israel.

 

Yang luar biasa adalah manuver diplomatiknya di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Raja Faisal berhasil mewujudkan embargo minyak agar dilakukan negara-negara Arab anggota OPEC terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat pro-Israel. Embargo itu terjadi pada Oktober 1973, ketika konflik terjadi lagi antara entitas Zionis itu dan Palestina—serta sekutu Arab.

 

Kebijakannya itu akhirnya mampu menaikkan harga minyak dunia sehingga menguntungkan negara-negara Timur Tengah dan negara-negara OPEC pada umumnya, termasuk Indonesia. Alhasil, inilah pertama kalinya Indonesia mengalami masa kejayaan minyak dan gas bumi (oil boom). Adapun oil boom kedua yang dialami RI ialah ketika revolusi pecah di Iran pada 1979 yang menyebabkan terganggunya pasokan migas dan, pada akhirnya, melonjakkan harga minyak dunia.

Dok rawpixel.

Bagaimanapun, bagi Raja Faisal, langkah caturnya di OPEC bukan demi bertambahnya profit itu sendiri, melainkan tujuan yang lebih luhur, yakni menekan AS dan sekutu-sekutu Barat yang pro-Israel. Ia pun mendukung perjuangan Palestina dengan menerjunkan pasukan ke medan perang dalam melawan Israel. Di palagan yang terjadi di perbatasan Yordania-Israel serta dataran tinggi Golan dan Sinai, bala tentara Saudi diterjunkan. Berkat ketegasannya itu, Raja Faisal menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di dunia Arab dan Islam. Tokoh ini dipandang sebagai pemersatu negara-negara Arab.

 

Pengaruhnya di tataran global memang diakui luas. Majalah Time menganugerahinya sebagai “Man of the Year” pada 1974. Namun, usianya kian dekat di ujung.

 

Pada 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal ditembak mati oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal Ibn Musaed. Alasan pembunuhan tersebut masih tidak jelas kala itu. Seperti dilansir laman BBC History, Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah ditembak dan dinyatakan masih hidup. Dokter kemudian mengejutkan jantungnya dan memberinya transfusi darah, tetapi nahas, para dokter tidak dapat menyelamatkannya.

 

Pangeran Faisal Ibu Musaed diduga menembakkan tiga peluru ke arahnya dengan pistol dari jarak dekat selama audiensi kerajaan. Menurut saksi mata, Pangeran Musaed sedang menunggu di ruang antre dan berbicara dengan utusan Kuwait yang sedang menunggu untuk bertemu dengan raja.

 

Raja Faisal telah membungkuk ke depan mencium memohon untuk jangan menembak, tetapi Pangeran Musaed dilaporkan telah mengeluarkan pistol dan menembaknya di bawah dagu dan kemudian melalui telinga. Salah satu pengawal raja memukul pangeran dengan pedangnya, meskipun pedang masih dalam keadaan terbungkus.

top